Menangani Konflik di Dalam Usaha
Konflik di usaha kecil biasanya soal pembagian kerja dan rasa tidak adil. Cara menanganinya adalah mendengar dua pihak lebih dulu, lalu menetapkan aturan yang sama.
Konflik di usaha kecil hampir selalu muncul, terutama bila jumlah karyawan bertambah atau ada anggota keluarga yang ikut bekerja. Persoalannya bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan apakah konflik itu diselesaikan atau dibiarkan menumpuk. Konflik yang dibiarkan cepat berubah menjadi penurunan mutu kerja dan keluhan pelanggan.
Mengenali bentuk konflik yang biasanya terjadi
Beberapa bentuk konflik di usaha kecil sering muncul berulang: pembagian shift yang dianggap tidak adil, perbedaan cara kerja antara karyawan lama dan baru, peran anggota keluarga yang tidak jelas, serta perselisihan kecil yang berlarut karena tidak pernah dibicarakan.
Sering kali akar masalahnya bukan orangnya, melainkan aturan yang tidak pernah ditulis. Bila jadwal lembur tidak jelas, setiap orang akan menafsirkan sendiri dan merasa dirugikan.
Mendengar lebih dulu, satu per satu
Bila terjadi perselisihan, bicarakan dengan masing-masing pihak secara terpisah sebelum pertemuan bersama. Tujuannya agar Anda mendapat gambaran tanpa salah satu pihak merasa tertekan. Tanyakan apa yang terjadi, apa yang paling mengganggu, dan apa yang diharapkan.
- Dengarkan tanpa memotong, walau keterangannya berbelit.
- Catat kejadian yang berupa fakta, bukan penilaian pribadi.
- Tanyakan bukti bila ada, misalnya catatan shift atau pesan tertulis.
- Tegaskan bahwa tujuan pembicaraan adalah memperbaiki kerja, bukan mencari siapa yang salah.
Setelah itu barulah adakan pertemuan bertiga. Sampaikan hal yang disepakati bersama dan pisahkan hal yang masih berbeda pendapat. Pertemuan sebaiknya tidak dilakukan di depan pelanggan atau di depan karyawan lain.
Memisahkan masalah kerja dan masalah orang
Tidak semua perselisihan perlu diselesaikan sebagai konflik pribadi. Bila masalahnya soal cara kerja, cukup perbaiki aturannya. Bila masalahnya soal sikap seseorang, bicarakan empat mata dan sebutkan perilaku yang mengganggu, bukan sifat orangnya.
Contoh aturan kerja yang menutup banyak perselisihan: urutan siapa yang mendapat jadwal libur pada hari besar, cara membagi uang tip, siapa yang bertanggung jawab bila kas kurang, dan kapan seseorang boleh meninggalkan tempat kerja lebih dulu.
Bila usaha Anda dijalankan bersama keluarga, kejelasan peran menjadi lebih penting lagi. Cara membaginya dibahas pada artikel usaha keluarga: membagi peran agar tidak berantakan.
Selalu ada kemungkinan konflik muncul karena karyawan kurang nyaman menyampaikan pendapat kepada pemilik. Cara membuka jalur itu dibahas pada artikel membangun kepercayaan dengan karyawan.
Menetapkan aturan dan menegakkannya sama
Setelah sebabnya jelas, tetapkan aturan yang berlaku sama bagi semua orang, termasuk anggota keluarga dan karyawan lama. Aturan yang berlaku berbeda untuk orang tertentu akan melahirkan konflik baru, biasanya yang lebih sulit diselesaikan.
Tulis aturannya singkat saja dan tempel di ruang kerja. Sampaikan juga akibat bila aturan dilanggar, supaya keputusan Anda nanti tidak terasa mendadak. Untuk hal yang berkaitan dengan kewajiban kerja, pastikan pula aturannya sesuai kesepakatan kerja yang berlaku dan tidak bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi; bila ragu, tanyakan kepada pihak yang berwenang karena ketentuannya dapat berubah.
Setelah keputusan diambil, jangan membahas ulang perkara yang sama dengan karyawan lain. Bila terus dibicarakan, konflik akan hidup kembali dan membuat suasana kerja tidak tenang.
Perhatikan juga suasana kerja sehari-hari. Bila ketegangan muncul berulang setiap jam sibuk, kemungkinan besar masalahnya adalah beban kerja yang terlalu berat pada jam tertentu, bukan pertengkaran orang. Menambah satu orang pada jam itu sering menyelesaikan lebih banyak daripada pertemuan panjang.
Mulai dengan menulis lima aturan kerja yang paling sering menimbulkan perselisihan. Bahas bersama karyawan, tempel di tempat kerja, lalu jalankan sama untuk semua orang termasuk diri Anda sendiri.
Pertanyaan yang sering muncul
Bagaimana menangani konflik antara karyawan lama dan karyawan baru?
Bicarakan terpisah lebih dulu, lalu tetapkan satu cara kerja yang berlaku sama untuk keduanya. Sering kali akar masalahnya adalah aturan yang tidak pernah ditulis, bukan sikap orangnya.
Apakah pemilik sebaiknya ikut campur dalam perselisihan kecil antar karyawan?
Ikut campur bila perselisihan mulai memengaruhi pekerjaan atau pelanggan. Untuk hal kecil, cukup pastikan aturan kerjanya jelas sehingga karyawan bisa menyelesaikannya sendiri.
Bagaimana kalau yang berselisih adalah anggota keluarga sendiri?
Perlakukan sama seperti karyawan lain: bicarakan terpisah, sebutkan pekerjaan yang terganggu, lalu tetapkan aturan yang berlaku untuk semua. Kejelasan peran keluarga mencegah perpecahan di dalam usaha.
Apakah aturan kerja perlu ditulis?
Perlu, walau singkat. Aturan tertulis mencegah setiap orang menafsirkan sendiri, dan membuat keputusan pemilik terasa adil karena sudah diketahui sebelumnya.


