Usaha Keluarga: Membagi Peran agar Tidak Berantakan
Usaha keluarga berantakan bukan karena anggotanya tidak mampu, tetapi karena peran dan batas kewenangan tidak pernah dituliskan.
Usaha keluarga sering berantakan bukan karena anggotanya tidak mampu, tetapi karena peran dan batas kewenangan tidak pernah dituliskan. Semua merasa berhak memutuskan, tetapi tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab atas satu pekerjaan.
Persoalannya jarang soal kemampuan. Yang hilang biasanya kejelasan, dan kejelasan itu bisa dibuat tanpa harus mengubah susunan keluarga.
Dua sebab yang paling sering
Pertama, peran dibagi berdasarkan kedekatan, bukan kemampuan: yang paling dekat dengan pemilik mendapat pekerjaan paling penting. Kedua, keputusan diambil di meja makan tanpa catatan, sehingga kesepakatan mudah berubah dan sulit ditelusuri kembali.
Akibat lanjutannya, pertengkaran rumah terbawa ke tempat usaha dan sebaliknya. Pemisahan yang jelas karena itu bukan tanda kurang percaya, melainkan cara menjaga hubungan tetap baik dalam jangka panjang.
Tiga hal yang perlu dipisahkan
| Hal | Bentuk yang jelas | Akibat bila tidak dipisahkan |
|---|---|---|
| Kepemilikan | Siapa memiliki berapa bagian usaha | Perselisihan saat hasil dibagi atau saat usaha dialihkan |
| Pekerjaan | Siapa mengerjakan apa setiap hari | Pekerjaan saling menunggu atau dikerjakan dua kali |
| Kewenangan | Siapa boleh memutuskan, sampai batas berapa | Semua keputusan berhenti pada satu orang |
Soal kepemilikan sebaiknya dibicarakan saat usaha masih tenang, bukan ketika sudah ada perselisihan. Kesepakatan tertulis jauh lebih menolong daripada saling mengandalkan ingatan.
Cara membagi peran
- Daftar semua pekerjaan yang harus dikerjakan setiap hari, setiap pekan, dan setiap bulan.
- Kelompokkan pekerjaan yang sejenis, misalnya keuangan, pembelian, pelayanan, dan pengawasan karyawan.
- Cocokkan setiap kelompok dengan kemampuan dan kesediaan waktu masing-masing anggota keluarga.
- Tetapkan satu pengganti untuk setiap kelompok, agar pekerjaan tetap berjalan saat penanggung jawabnya tidak ada.
- Tuliskan pembagiannya, tempel di ruang kerja, lalu tinjau setiap beberapa bulan.
Pembagian yang tertulis membuat anggota keluarga tahu batas perannya, sehingga tidak perlu ada yang merasa paling berjasa atau paling sibuk.
Keuangan dan upah anggota keluarga
Anggota keluarga yang bekerja sebaiknya menerima upah yang jelas, bukan uang yang diambil sesuai kebutuhan. Cara kedua membuat modal usaha bocor tanpa terlihat dan menyulitkan perhitungan laba. Sebaiknya bedakan tiga hal: upah sebagai pekerja, bagian laba sebagai pemilik, dan pinjaman bila memang ada.
Pisahkan juga uang usaha dari uang rumah, misalnya dengan rekening berbeda dan pencatatan harian. Pemasukan yang tercampur membuat laba usaha sulit dinilai, dan pada akhirnya menyulitkan keputusan yang perlu diambil.
Menjaga hubungan tetap baik
- Adakan pertemuan singkat setiap pekan, dengan agenda dan batas waktu yang jelas.
- Sepakati bahwa persoalan usaha tidak dibahas di rumah, kecuali dalam pertemuan itu.
- Catat keputusan penting, termasuk alasan dan tanggalnya.
- Untuk urusan rumit seperti pajak dan perjanjian, gunakan bantuan orang di luar keluarga.
Perlu juga kesepakatan tentang cara keluar dari usaha, meski terdengar tidak nyaman dibicarakan. Hal ini mencakup bagaimana bagian kepemilikan dinilai bila ada anggota yang ingin berhenti, dan siapa yang melanjutkan pekerjaannya. Kesepakatan yang dibuat saat hubungan masih baik jauh lebih mudah disetujui daripada saat sudah ada perselisihan, dan bentuk kerja sama usaha yang benar bisa dipakai sebagai gambaran.
Usaha keluarga yang sehat biasanya bukan yang tidak pernah berselisih, melainkan yang punya cara jelas untuk menyelesaikannya. Mulailah dari pembagian peran yang tertulis, lalu rapikan susunan upah dan tunjangan bila anggota keluarga sudah bekerja penuh waktu, dan buat pencatatan harian yang bisa diperiksa siapa pun. Dua hal itu menutup sebagian besar sumber keributan yang biasa muncul.
Pertanyaan yang sering muncul
Mengapa usaha keluarga sering tidak berjalan rapi?
Karena peran biasanya dibagi berdasarkan kedekatan, bukan kemampuan, dan batas kewenangan tidak pernah dituliskan. Tanpa kejelasan itu, pekerjaan saling menunggu dan keputusan berhenti pada satu orang.
Apakah anggota keluarga yang bekerja perlu diberi upah?
Sebaiknya ya, dengan jumlah yang jelas. Bila mereka mengambil uang sesuai kebutuhan, modal usaha bocor tanpa terlihat dan laba usaha menjadi sulit dihitung.
Bagaimana membagi peran tanpa menimbulkan perselisihan?
Susun daftar pekerjaan, kelompokkan yang sejenis, lalu cocokkan dengan kemampuan dan waktu masing-masing. Setelah disepakati, tuliskan dan tempel di ruang kerja agar tidak bergantung pada ingatan.
Perlukah ada pertemuan rutin dalam usaha keluarga?
Perlu, meski singkat dan hanya sekali sepekan. Pertemuan dengan agenda jelas memindahkan pembicaraan usaha dari meja makan ke tempat yang semestinya, sehingga hubungan keluarga tetap terjaga.



