Manajemen Bisnis

Membuat Target dan Indikator Kinerja yang Masuk Akal

Target yang berguna dibuat dari catatan usaha sendiri, jumlahnya sedikit, dan diperiksa rutin. Bedakan target hasil, kebiasaan, dan proses agar tidak saling menutupi.

Diterbitkan 7 Juni 2025 · 3 menit baca · Tim LokasiBisnis.id

Dua orang pemilik usaha kecil meninjau catatan target penjualan mingguan di atas meja kerja
Dua orang pemilik usaha kecil meninjau catatan target penjualan mingguan di atas meja kerja

Target yang baik membuat pekerjaan harian lebih tenang, bukan lebih menegangkan. Masalahnya, banyak usaha kecil memakai target yang terlalu besar, tidak terukur, atau tidak pernah diperiksa lagi. Indikator kinerja sebenarnya sederhana: sedikit angka dan kebiasaan yang diperiksa rutin, lalu dipakai untuk mengambil keputusan.

Mulai dari catatan usaha sendiri

Target paling masuk akal berasal dari catatan Anda sendiri, bukan dari usaha lain. Ambil catatan penjualan tiga bulan terakhir, lalu lihat angka rata-rata harian, hari paling ramai, dan hari paling sepi.

Sebagai contoh perhitungan, misalkan rata-rata penjualan harian Anda tiga juta rupiah dan pernah mencapai tiga juta enam ratus ribu pada hari ramai. Menetapkan target harian tiga juta dua ratus ribu lebih masuk akal daripada melonjak ke lima juta. Angka itu hanya contoh, bukan patokan untuk usaha lain.

Bedakan target hasil, kebiasaan, dan proses

Target hasil adalah hal yang ingin dicapai, misalnya jumlah penjualan atau jumlah pelanggan baru. Target kebiasaan adalah hal yang Anda kendalikan sendiri, misalnya menawarkan produk tambahan atau mencatat kas setiap tutup toko. Usaha kecil biasanya lebih cepat berubah lewat target kebiasaan.

JenisContohKapan diperiksa
HasilPenjualan harian, pelanggan baruSetiap tutup toko
KebiasaanMenawarkan produk tambahanSetiap hari
ProsesWaktu tunggu, barang rusakSekali sepekan

Cukup satu sampai tiga indikator

Semakin banyak angka yang dipantau, semakin cepat catatan itu ditinggalkan. Pilih satu indikator untuk penjualan, satu untuk uang, dan satu untuk mutu. Kalau ketiganya sudah berjalan rutin, barulah tambah satu lagi.

Tuliskan indikator pada papan kecil di ruang kerja, lengkap dengan siapa yang mencatat dan di mana catatannya disimpan. Indikator yang tidak jelas pencatatnya biasanya berhenti dalam dua minggu.

Untuk menjaga ritme pemeriksaan, atur pertemuan singkat mingguan seperti dijelaskan pada artikel rapat singkat yang berguna untuk usaha kecil.

Meninjau dan menyesuaikan target

Periksa target setiap pekan dengan tiga pertanyaan sederhana: apakah angkanya tercapai, apa penyebabnya, dan apa satu langkah perbaikan minggu depan. Kalau target tercapai berulang tanpa usaha keras, naikkan sedikit. Kalau tidak pernah tercapai dua minggu berturut-turut, turunkan atau ubah caranya.

Jangan mengubah target setiap hari. Perubahan yang terlalu sering membuat karyawan berhenti memperhatikan angka, karena mereka tahu angkanya akan bergeser lagi.

Menghindari target yang saling bertabrakan

Dua target yang bertabrakan membuat karyawan bingung harus menuruti yang mana. Misalnya target menaikkan penjualan bersamaan dengan target memangkas waktu pelayanan pada jam ramai; keduanya bisa dicapai, tetapi butuh penyesuaian cara kerja lebih dulu.

Periksa daftar target Anda, lalu tanyakan apakah ada yang saling meniadakan. Bila ada, tentukan mana yang lebih penting untuk tiga bulan ke depan, dan ubah target lainnya menjadi penanda yang diamati saja.

Perhatikan juga hal yang tidak boleh dikorbankan demi target. Mutu, keselamatan kerja, dan catatan uang sebaiknya tidak dijadikan bahan pertukaran, karena kerugiannya muncul belakangan dan lebih sulit diperbaiki. Untuk hal yang tidak bisa dihitung, seperti keramahan pelayanan, pakai catatan contoh kejadian, bukan angka yang dikarang.

Sampaikan target kepada orang yang mengerjakannya, bukan hanya kepada satu orang yang menghitung. Target yang hanya diketahui pemilik tidak akan mengubah perilaku sehari-hari siapa pun.

Untuk kinerja orang, sambungkan target usaha dengan penilaian karyawan secara wajar, seperti diuraikan pada panduan mengukur kinerja karyawan usaha kecil. Mulailah minggu ini dengan mencatat tiga angka saja, lalu periksa setiap hari tutup toko.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa jumlah indikator kinerja yang wajar untuk usaha kecil?

Cukup satu sampai tiga, misalnya satu angka penjualan, satu angka uang, dan satu penanda mutu. Menambah lebih dari itu biasanya membuat pencatatan berhenti karena terlalu menyita waktu.

Bagaimana kalau saya belum punya catatan penjualan lama?

Mulailah mencatat dari sekarang selama empat minggu. Setelah itu, rata-rata dan hari terbaik Anda bisa dipakai sebagai dasar menetapkan target yang masuk akal.

Apakah target harus selalu berupa angka penjualan?

Tidak. Target kebiasaan seperti menawarkan produk tambahan atau mencatat kas setiap tutup toko sering lebih mudah dijalankan dan tetap memengaruhi penjualan.

Seberapa sering target perlu ditinjau?

Sekali sepekan sudah cukup untuk memeriksa hasil dan menentukan satu langkah perbaikan. Perubahan target sebaiknya tidak dilakukan setiap hari agar karyawan tetap memperhatikan angkanya.

Baca juga