Memakai Cerita Pelanggan sebagai Promosi
Cerita nyata dari pelanggan lebih dipercaya daripada iklan. Yang perlu disiapkan hanya cara bertanya, izin pemakaian, dan penempatan yang tepat.
Calon pembeli biasanya lebih percaya pada pengalaman orang lain daripada pada iklan usaha. Karena itu cerita pelanggan layak dicatat dan dipakai, asalkan diperoleh dengan cara yang benar. Yang dibutuhkan bukan bantuan penulis, hanya kebiasaan bertanya dan mencatat.
Mengumpulkan cerita lewat percakapan biasa
Cerita jarang datang sendiri. Sisipkan satu pertanyaan terbuka saat pelanggan sedang membayar atau menunggu pesanan, misalnya apa yang paling membantu dari produk Anda, atau apa yang membuat mereka kembali. Dengarkan tanpa memancing jawaban bagus.
Sebaiknya catat juga kapan dan di mana percakapan itu terjadi. Keterangan yang disampaikan di depan barang yang bersangkutan biasanya lebih rinci daripada cerita yang ditulis setelah beberapa hari, karena pelanggan masih mengingat keadaan yang membuatnya tertarik.
Siapkan tempat mencatat, entah buku kecil di dekat kasir atau catatan di telepon usaha. Tulis inti kalimat pelanggan dengan bahasa mereka sendiri, bukan dengan bahasa iklan.
Meminta izin sebelum dipakai
Sebelum menampilkan cerita atau nama pelanggan, mintalah izin lebih dulu. Jelaskan akan dipakai di mana, misalnya di papan pengumuman toko, di lembar pesanan, atau di media sosial usaha.
Untuk pelanggan tetap, izin bisa diminta sekaligus untuk beberapa cerita dan foto, asalkan penggunaannya dijelaskan. Simpan catatan izin itu supaya tidak menimbulkan salah paham di kemudian hari, terutama bila karyawan yang menanganinya berganti.
- Tanyakan apakah nama boleh dicantumkan atau cukup inisial.
- Bila memuat foto, minta persetujuan orang di dalam foto itu.
- Jangan menampilkan nomor telepon atau keterangan pribadi lainnya.
- Hindari cerita yang mengungkap keadaan pribadi tanpa izin jelas.
Bila pelanggan menolak, hargai keputusan itu tanpa memaksa. Kepercayaan jauh lebih berharga daripada satu bahan promosi.
Menulis cerita dengan singkat dan jujur
Cerita yang baik memuat tiga hal: keadaan sebelum, apa yang dilakukan usaha Anda, dan hasil yang dirasakan pelanggan. Tiga baris sudah cukup.
Sebagai contoh, seorang pelanggan yang biasa membeli dalam jumlah besar bisa bercerita bahwa ia kini membeli lebih sering dengan porsi lebih kecil karena dananya terbatas. Cerita seperti ini sederhana, tetapi menjelaskan manfaat nyata kepada pembaca. Contoh itu hanya gambaran bentuk penulisan, bukan hasil yang bisa dijanjikan kepada pelanggan lain.
Jangan menyunting cerita sampai maknanya berubah, dan jangan menambahkan pujian yang tidak pernah diucapkan pelanggan.
Cerita yang berguna tidak harus berisi pujian. Keterangan sederhana bahwa barang selalu tersedia saat dibutuhkan sering lebih meyakinkan daripada kata-kata berlebihan, karena pembaca bisa membayangkan keadaan yang dimaksud.
Untuk mengelola tanggapan yang masuk, termasuk yang kurang menyenangkan, lihat langkah pada artikel cara mengelola ulasan pelanggan di internet.
Menempatkan cerita di tempat yang dibaca
Cerita sebaiknya berada di tempat calon pembeli sedang mempertimbangkan. Letakkan di dekat barang yang dibicarakan, di dekat tempat membayar, atau di dalam kemasan bagi usaha makanan. Di media sosial usaha, unggah cerita secara berkala, tidak sekaligus banyak.
Hindari menumpuk banyak cerita pada satu tempat sampai sulit dibaca. Tiga sampai lima cerita yang ditampilkan rapi lebih berguna daripada banyak cerita yang berdesakan, karena pembaca hanya menyempatkan beberapa detik untuk melihatnya.
Tanggapi juga cerita yang kurang baik. Bila ada pelanggan yang menyampaikan keluhan, perbaiki lebih dulu, lalu tanyakan apakah ia bersedia menceritakan pengalaman setelah perbaikan itu. Cara ini jauh lebih meyakinkan daripada menghapus keluhan.
Untuk membuat cerita menyebar lewat percakapan sehari-hari, padukan dengan cara pada artikel promosi dari mulut ke mulut.
Mulai dari lima pelanggan tetap minggu ini. Minta izin, tulis cerita mereka dalam tiga baris, lalu pasang di tempat yang paling sering dibaca. Setelah satu bulan, perhatikan cerita mana yang paling sering ditanyakan pelanggan, lalu tambahkan cerita sejenis.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah perlu alat khusus untuk mengumpulkan cerita pelanggan?
Tidak. Buku catatan kecil atau catatan di telepon sudah cukup. Yang penting cerita ditulis segera setelah percakapan, selagi keterangannya masih lengkap.
Bolehkah memakai cerita pelanggan tanpa menyebut namanya?
Boleh, asalkan pelanggan tetap memberi izin. Sebagian orang lebih suka disebut dengan inisial atau tanpa nama, dan permintaan itu perlu dihormati.
Bagaimana kalau cerita pelanggan terlalu panjang?
Ringkas menjadi sekitar tiga baris dengan tetap menjaga maknanya. Cerita panjang biasanya tidak terbaca, sedangkan yang singkat lebih mudah diceritakan orang lain.
Apa yang tidak boleh dilakukan dengan cerita pelanggan?
Jangan mengarang cerita, membesar-besarkan hasil, atau memakai foto dan nama tanpa izin. Jangan pula menampilkan keterangan pribadi yang tidak berkaitan dengan promosi.


