Kapan Sebaiknya Sebuah Cabang Ditutup
Menutup cabang sulit diputuskan karena melibatkan perasaan. Ada beberapa tanda yang bisa dipakai untuk menilai secara lebih tenang.
Menutup cabang adalah keputusan yang paling sering ditunda terlalu lama. Penyebabnya wajar: ada karyawan yang menggantungkan penghasilan, ada perasaan gagal, dan ada harapan bahwa bulan depan akan lebih baik. Tetapi cabang yang terus merugi juga mengambil dana, waktu, dan perhatian yang seharusnya dipakai memperkuat gerai yang sehat.
Pisahkan rugi sementara dari masalah tetap
Kerugian pada masa awal itu biasa. Cabang baru butuh waktu membangun pelanggan, dan biaya awal memang belum kembali. Untuk membedakannya, tetapkan sejak awal berapa lama dan seberapa besar kerugian yang masih dapat Anda tanggung, lalu tuliskan tanggal evaluasinya.
Yang perlu diwaspadai adalah kerugian yang sumbernya tidak berubah: tempat yang sepi karena salah membaca pergerakan orang, biaya sewa yang terlalu tinggi untuk jumlah pelanggan di wilayah itu, atau jenis produk yang memang tidak dicari orang di daerah tersebut. Kalau sumbernya struktural, menambah waktu biasanya hanya menambah pengeluaran.
Angka yang perlu dilihat sebelum memutuskan
| Yang dibandingkan | Artinya bagi keputusan |
|---|---|
| Hasil bersih cabang itu setelah semua biaya | Kalau selalu negatif tanpa arah membaik, pertimbangkan penutupan |
| Dana yang dibutuhkan untuk memperbaiki | Bandingkan dengan perkiraan biaya membuka tempat lain di lokasi lebih baik |
| Beban pemilik dan tim | Cabang yang menyita perhatian berlebihan dapat melemahkan gerai yang sehat |
| Sisa masa sewa dan kewajibannya | Periksa konsekuensi keuangan bila perjanjian diakhiri lebih awal |
Susun angka ini untuk beberapa bulan terakhir, bukan hanya satu bulan. Satu bulan yang buruk bisa saja berasal dari perbaikan jalan atau musim libur, sedangkan tiga bulan yang serupa biasanya menunjukkan pola.
Tanda masalahnya bukan di cabang itu
Sebelum menutup, pastikan masalahnya memang pada lokasi, bukan pada pengelolaan. Beberapa gejala sering disalahartikan sebagai masalah lokasi, padahal penyebabnya lain: pemimpin yang tidak cocok, stok yang sering kosong, jam buka yang tidak sesuai kebiasaan warga sekitar, atau mutu yang menurun karena pelatihan yang belum tuntas.
Cara mengujinya sederhana. Perbaiki satu hal yang paling mencurigakan selama beberapa pekan dan lihat apakah angkanya bergerak. Kalau penjualan naik meski perlahan, berarti lokasinya masih punya peluang. Kalau tidak bergerak sama sekali meski pelayanan sudah diperbaiki, dugaan ke arah lokasi menjadi lebih kuat.
Cara menutup dengan tertib
- Periksa kewajiban sewa. Ketahui pemberitahuan berapa lama yang harus disampaikan dan biaya yang mungkin timbul dari pengakhiran lebih awal.
- Bicarakan dengan karyawan lebih dulu. Sampaikan dengan jujur dan beri waktu agar mereka bisa mencari pekerjaan lain. Bila ada yang layak, pindahkan ke gerai lain.
- Selesaikan urusan pemasok. Pastikan tidak ada utang bahan atau titipan dagang yang belum diselesaikan.
- Jual atau pindahkan aset. Alat yang masih layak sebaiknya dipakai di gerai lain daripada dijual cepat dengan harga rendah.
- Informasikan ke pelanggan. Beri tahu sejak awal, sebutkan apakah ada gerai lain yang bisa mereka datangi, dan sampaikan terima kasih.
- Utamakan kewajiban yang harus ditutup. Pastikan urusan perpajakan, izin, dan catatan keuangan diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku dan dipastikan pada sumber resmi.
Setelah cabang ditutup
- Hindari menutup tanpa alasan yang dicatat. Tuliskan apa yang salah dan apa yang Anda pelajari, agar keputusan serupa tidak terulang di lokasi berikutnya.
- Jangan menutup dua cabang sekaligus bila tidak perlu. Perubahan besar dalam waktu singkat membuat usaha sulit membaca penyebabnya.
- Perhatikan dampak pada nama usaha. Penutupan yang dilakukan dengan sopan biasanya tidak merusak, sementara penutupan mendadak yang meninggalkan pelanggan dan karyawan bisa berdampak panjang.
Langkah berikutnya
Menutup satu cabang bukan berarti usaha Anda gagal. Sering kali itu keputusan yang menyelamatkan bagian yang masih sehat. Sebelum memutuskan, pelajari penyebab kegagalan yang umum pada kenapa cabang kedua bisa gagal, dan bandingkan hitungannya dengan cara menghitung kelayakan cabang baru bila Anda mempertimbangkan lokasi pengganti.
Pertanyaan yang sering muncul
Berapa lama sebaiknya menunggu sebelum memutuskan menutup cabang?
Tetapkan tenggat sejak awal, misalnya beberapa bulan setelah cabang dibuka, lalu evaluasi memakai angka yang tercatat. Kalau pada tenggat itu tidak ada arah perbaikan dan biaya perbaikannya lebih besar daripada membuka tempat baru, penutupan layak dipertimbangkan.
Apakah menutup cabang akan merusak citra usaha saya?
Umumnya tidak, asalkan dilakukan tertib. Yang merusak citra adalah penutupan mendadak yang meninggalkan pelanggan tanpa penjelasan, karyawan tanpa kejelasan, dan pemasok dengan utang. Penutupan yang rapi dan disampaikan dengan sopan biasanya dipahami.
Bagaimana kalau cabang merugi hanya karena pemimpinnya kurang cocok?
Ganti orangnya lebih dulu, bukan lokasinya. Beri waktu beberapa pekan sampai beberapa bulan untuk melihat apakah angkanya membaik. Mengganti pemimpin hampir selalu jauh lebih murah daripada menutup cabang dan membuka tempat baru.
Apa yang harus dilakukan dengan karyawan cabang yang ditutup?
Sampaikan lebih awal, tawarkan pindah ke gerai lain bagi yang layak, dan berikan waktu untuk mencari pekerjaan lain bila tidak ada tempat. Ketentuan mengenai pemberitahuan dan hak karyawan dapat berubah, jadi sebaiknya dipastikan pada sumber resmi.



