Cara Menghitung Margin per Produk dan Memakainya untuk Keputusan
Margin per produk adalah selisih harga jual dengan biaya langsung produk itu. Angkanya membantu memilih produk mana yang layak ditambah dan mana yang perlu dihitung ulang.
Banyak pemilik usaha hafal harga jual setiap produk, tetapi belum tentu tahu berapa yang benar-benar tinggal dari setiap penjualan. Margin per produk menjawab pertanyaan itu. Angkanya membantu Anda memilih produk mana yang layak diberi tempat lebih besar dan mana yang perlu dihitung ulang.
Margin berbeda dari laba usaha
Laba usaha dihitung setelah semua pengeluaran, termasuk sewa tempat, gaji, dan listrik. Margin per produk dihitung hanya dari biaya yang bisa ditelusuri langsung ke produk tersebut. Karena itu margin tetap positif walaupun usaha secara keseluruhan sedang rugi, dan sebaliknya margin bisa tipis walaupun usaha terlihat ramai.
Memisahkan keduanya penting supaya Anda tidak salah menyimpulkan. Produk dengan margin besar tetap bisa merugikan bila penjualannya sangat sedikit dan memakan tempat. Sebaliknya produk bermargin tipis bisa membantu bila volumenya besar dan biaya tambahannya kecil.
Biaya yang masuk hitungan
Masukkan hanya biaya yang berubah seiring jumlah produk yang dijual. Untuk toko retail, itu harga beli barang, kemasan, dan ongkos kirim. Untuk usaha makanan, tambahkan bahan yang hanya dipakai produk tersebut. Jangan masukkan sewa tempat atau gaji bulanan ke hitungan ini, karena keduanya tetap keluar walau produk tidak terjual.
- Harga beli atau biaya bahan per unit.
- Kemasan dan label khusus produk itu.
- Ongkos kirim atau biaya pengiriman yang menempel pada produk.
- Potongan biaya layanan penjualan, bila ada, per transaksi.
Contoh perhitungan yang bisa diikuti
Sebagai contoh perhitungan, misalkan sebuah produk dibeli dengan harga 12.000 rupiah per unit, dikemas dengan biaya 1.000 rupiah, dan ongkos kirim ke toko 500 rupiah per unit. Total biaya langsungnya 13.500 rupiah. Bila produk dijual 20.000 rupiah, marginnya 6.500 rupiah per unit, atau sekitar 33 persen dari harga jual. Angka ini hanya contoh cara menghitung, bukan patokan margin yang harus Anda capai.
| Keterangan | Nilai contoh | Cara membacanya |
|---|---|---|
| Harga jual | 20.000 | Titik awal perhitungan |
| Biaya langsung | 13.500 | Beli, kemasan, kirim |
| Margin | 6.500 | 33 persen dari harga jual |
Memakainya untuk keputusan sehari-hari
Margin per produk berguna saat Anda harus memilih. Bila ruang rak terbatas, dahulukan produk dengan margin rupiah besar yang penjualannya stabil. Bila ada produk bermargin tipis tetapi sering dibeli bersama produk lain, produk itu tetap layak dipertahankan sebagai pelengkap.
Margin juga membantu menilai apakah kenaikan harga bahan perlu diteruskan ke harga jual. Hitung ulang margin dengan biaya baru, lalu lihat apakah angkanya masih menutup biaya tetap yang harus dibagi. Bila tidak, pertimbangkan menyesuaikan porsi, kemasan, atau harga secara bertahap.
Kesalahan yang sering terjadi saat menghitung margin
Kesalahan pertama adalah memakai harga beli saja sebagai biaya langsung, sehingga kemasan, ongkos kirim, dan potongan yang diberikan terlupakan. Kesalahan kedua adalah memasukkan biaya tetap seperti sewa dan gaji ke dalam hitungan margin produk, sehingga semua produk terlihat bermargin tipis dan tidak ada yang tampak layak dipertahankan, padahal produk itu masih menyumbang untung.
Kesalahan ketiga adalah menghitung margin dari harga jual sebelum potongan. Bila potongan sering diberikan, hitung margin pada harga setelah potongan agar gambarnya sesuai kenyataan di kasir.
Perhatikan juga komposisi penjualan. Dua usaha bisa menjual produk dengan margin yang sama, tetapi hasil akhirnya berbeda bila satu usaha lebih banyak menjual produk bermargin besar. Karena itu catat jumlah unit terjual, bukan hanya nilai penjualannya.
Hitung margin untuk sepuluh produk terlaris Anda minggu ini, lalu tandai dua yang paling tipis. Setelah itu bandingkan dengan gambaran menyeluruh pada laporan laba rugi sederhana dan cara menetapkan angka jual pada menentukan harga jual yang menutup semua biaya.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah margin per produk sama dengan laba bersih?
Tidak. Margin per produk hanya mengurangi biaya langsung produk dari harga jualnya. Laba bersih baru muncul setelah biaya tetap seperti sewa, gaji, dan listrik juga dikurangkan. Keduanya perlu dihitung terpisah agar gambaran usaha tetap utuh.
Produk saya bermargin kecil tetapi paling laris, apakah harus dinaikkan harganya?
Belum tentu. Periksa dulu apakah produk itu ditaruh di rak yang tepat dan apakah biaya langsungnya bisa diturunkan dari sisi pembelian atau kemasan. Bila tetap tidak menutup, pertimbangkan menyesuaikan porsi atau harga secara bertahap.
Berapa kali margin perlu dihitung ulang?
Setiap kali harga beli, kemasan, atau ongkos kirim berubah, hitung ulang. Untuk usaha dengan harga bahan yang sering naik, sekali sebulan sudah cukup. Simpan catatan margin lama agar perubahan terlihat.
Bagaimana kalau saya tidak tahu biaya ongkos kirim per unit?
Bagi total biaya kirim dalam satu kali pengiriman dengan jumlah unit yang dikirim. Bila pengiriman memuat banyak jenis barang, bagi secara proporsional menurut nilai atau berat barang tersebut.



