Apa Itu Harga Pokok Penjualan dan Kenapa Sering Salah Hitung
Harga pokok penjualan adalah biaya langsung dari barang yang benar-benar terjual. Salah memisahkannya membuat laba terlihat lebih besar dari kenyataan.
Harga pokok penjualan adalah seluruh biaya langsung yang melekat pada barang yang benar-benar terjual. Angka ini yang membedakan antara ramai penjualan dan benar-benar untung, karena penjualan besar bisa tetap merugi bila biaya barangnya tidak dihitung dengan benar.
Apa saja yang termasuk di dalamnya
Untuk usaha kecil, isi harga pokok penjualan biasanya dapat dibatasi pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan barang atau jasa yang dijual.
- Bahan baku yang benar-benar terpakai, bukan seluruh jumlah yang dibeli.
- Kemasan dan bahan pembantu yang ikut terjual bersama produk.
- Harga beli barang dagangan untuk usaha yang menjual ulang.
- Ongkos kirim bahan yang dibayar usaha, bila jumlahnya berarti.
Sebaliknya, sewa tempat, gaji tetap, listrik, dan biaya promosi bukan bagian dari harga pokok penjualan. Pos-pos itu tetap penting, tetapi dihitung terpisah sebagai biaya usaha.
Untuk usaha makanan, kemasan dan bahan pembantu biasanya ikut masuk karena keduanya habis bersama produk. Untuk usaha jasa, harga pokok bisa berupa suku cadang, bahan habis pakai, dan upah langsung yang dibayarkan untuk pekerjaan itu. Bila ragu, mulailah dari daftar biaya yang paling jelas dan tinggalkan dulu pos yang memerlukan perkiraan rumit. Semakin sederhana daftarnya, semakin besar kemungkinan daftar itu benar-benar diisi setiap bulan.
Tiga kesalahan yang paling sering terjadi
- Memakai jumlah bahan yang dibeli, bukan yang terpakai. Bahan yang masih menumpuk di gudang belum menjadi biaya.
- Memasukkan semua pengeluaran toko ke dalam harga pokok, sehingga laba kotor terlihat kecil dan tidak bisa dibandingkan antar bulan.
- Melupakan bahan kecil yang rutin, seperti bumbu, gas, dan kemasan, karena dianggap tidak berarti.
Kesalahan ketiga paling sering membuat hitungan terasa tidak cocok antara perkiraan dan uang yang benar-benar ada.
Contoh perhitungan sederhana
Sebagai contoh perhitungan, misalkan dalam satu bulan Anda membeli bahan senilai sepuluh juta rupiah, dan dari pemeriksaan akhir bulan diketahui bahan yang masih tersisa senilai tiga juta rupiah. Maka bahan yang terpakai adalah tujuh juta rupiah. Bila penjualan bulan itu dua belas juta rupiah, maka laba kotornya lima juta rupiah.
Dari angka lima juta rupiah itu, barulah dikurangi sewa, gaji, listrik, dan biaya lain. Angka di atas hanya gambaran cara menghitung, bukan patokan untuk usaha Anda.
| Keterangan | Nilai contoh | Catatan |
|---|---|---|
| Penjualan | 12.000.000 | semua cara pembayaran |
| Bahan terpakai | 7.000.000 | beli dikurangi sisa |
| Laba kotor | 5.000.000 | penjualan dikurangi bahan |
Memakai angka ini untuk keputusan
Setelah harga pokok penjualan terpisah rapi, Anda bisa melihat apakah kenaikan penjualan benar-benar menambah laba atau hanya menambah kerja. Bila penjualan naik tetapi laba kotor tidak bergerak, biasanya ada pemborosan bahan atau harga jual yang terlalu rendah.
Angka ini juga menjadi dasar untuk memeriksa laba tiap jenis produk. Caranya dijelaskan pada artikel cara menghitung margin per produk.
Kesalahan lain yang tidak kalah sering adalah memakai angka perkiraan yang tidak pernah diperbarui. Harga bahan berubah dari waktu ke waktu, sehingga harga pokok yang dihitung setahun lalu bisa berbeda jauh dari kenyataan hari ini. Perbarui minimal setiap tiga bulan, atau setiap kali harga bahan utama berubah cukup terasa. Angka yang terbaru juga membantu Anda menilai harga jual: bila harga bahan naik sementara harga jual tetap, sisa laba per produk menyusut tanpa terasa.
Sisihkan waktu setiap akhir bulan untuk menghitung bahan yang tersisa. Dengan kebiasaan itu, harga pokok penjualan Anda menjadi lebih masuk akal dari bulan ke bulan.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah gaji karyawan termasuk harga pokok penjualan?
Gaji tetap bulanan biasanya dihitung sebagai biaya usaha. Namun upah yang dibayarkan langsung untuk mengerjakan pesanan tertentu bisa dianggap bagian dari biaya barang atau jasa itu.
Kenapa memakai bahan terpakai, bukan jumlah pembelian?
Karena bahan yang masih tersimpan belum menjadi beban penjualan. Bila seluruh pembelian dibebankan, laba bulan itu akan terlihat lebih kecil daripada kenyataan.
Bagaimana menghitungnya kalau bahan dipakai bersama untuk banyak produk?
Catat pemakaian harian secara kasar lebih dulu, misalnya per resep atau per porsi. Setelah beberapa minggu, catatan itu cukup untuk memperkirakan pemakaian tiap produk.
Apakah harga pokok penjualan sama dengan biaya total usaha?
Tidak. Harga pokok penjualan hanya mencakup biaya langsung barang yang terjual. Biaya operasional seperti sewa, listrik, dan promosi dihitung terpisah.



