Bias Pikiran yang Diam-diam Merugikan Usaha Anda
Ada cara berpikir yang terasa benar tetapi membuat usaha rugi. Mengenali tandanya membuat keputusan lebih terbuka.
Keputusan usaha tidak selalu salah karena kurang data. Sering kali penyebabnya cara berpikir yang terasa wajar dan sudah menjadi kebiasaan. Karena terasa benar, sulit dilihat sendiri. Mengenali tandanya lebih penting daripada menghafal namanya.
Terlalu terikat pada yang sudah dikeluarkan
Biaya yang sudah keluar, baik uang, tenaga, maupun waktu, sering membuat kita bertahan pada pilihan yang sebenarnya tidak bekerja. Contohnya meneruskan sebuah menu karena alatnya sudah dibeli, atau mempertahankan karyawan yang tidak cocok karena sudah dilatih lama. Padahal uang itu tidak akan kembali apa pun yang Anda putuskan sekarang.
Pertanyaan yang membantu: bila hari ini saya harus memulai dari nol, apakah saya akan memilih hal ini lagi? Bila jawabannya tidak, yang perlu diputuskan adalah cara berhenti dengan rapi, bukan alasan untuk bertahan.
Hanya mendengar yang membenarkan
Ketika sudah punya dugaan, kita cenderung mencari bukti yang mendukungnya dan mengabaikan yang bertentangan. Seorang pemilik yang yakin produknya disukai hanya akan mencatat pujian, sementara keluhan dianggap kebetulan. Akibatnya masalah yang sama berulang tanpa pernah diselesaikan.
Sengaja carilah keterangan yang berlawanan: tanyakan kepada pelanggan yang tidak kembali, dan baca ulasan yang kurang menyenangkan sampai selesai sebelum menilai.
Kejadian terakhir terasa paling penting
Penilaian kita sering dibuat dari kejadian yang paling baru atau paling mengesankan. Satu hari ramai membuat kita yakin usaha sedang membaik, dan satu hari sepi membuat kita yakin usaha sedang menurun. Keduanya belum tentu benar karena hari-hari lain belum diperiksa.
Cara mengatasinya adalah melihat catatan beberapa pekan sekaligus, bukan mengandalkan ingatan. Angka sepekan biasanya lebih tenang dibandingkan kesan hari kemarin.
Perkiraan yang terasa cukup
Saat merencanakan, waktu dan biaya hampir selalu terasa lebih ringan daripada kenyataan. Pekerjaan yang diperkirakan selesai dua hari sering menjadi empat hari, dan perbaikan kecil menjadi besar. Karena itu, menambahkan waktu dan ruang dana cadangan bukan berarti pesimis, melainkan cara menjaga usaha tetap aman.
Kebiasaan yang sama muncul saat menilai sebuah peluang: kita membayangkan hasil terbaik dan mengabaikan kemungkinan tertundanya pembayaran atau tambahan biaya.
Hal serupa terjadi ketika menilai hasil promosi. Kita cenderung menghubungkan kenaikan jumlah pembeli dengan hal terakhir yang kita lakukan, padahal penyebabnya bisa hari libur, cuaca, atau kegiatan di lingkungan sekitar. Mengubah satu hal pada satu waktu jauh lebih membantu daripada mengubah banyak hal sekaligus, dan catat kapan perubahan itu dijalankan agar bisa dibandingkan dengan pekan lain.
Cara mengurangi tanpa harus jadi ahli
Tidak perlu menghilangkan semua cara berpikir ini. Cukup pasang beberapa pemeriksaan sederhana, lalu jalankan secara tetap.
| Tanda | Pertanyaan penangkal |
|---|---|
| Bertahan karena sudah keluar biaya | Kalau mulai hari ini, apakah saya pilih ini lagi |
| Hanya mengumpulkan pujian | Siapa yang tidak kembali, dan kenapa |
| Menilai dari hari kemarin | Apa angka dua pekan ini, bukan hari ini |
| Perkiraan terasa terlalu lancar | Berapa tambahan biaya dan waktu yang perlu disiapkan |
Satu langkah lain yang sangat membantu adalah mencatat alasan setiap keputusan penting: tanggal, harapan, dan batas waktu penilaian. Dengan catatan itu, Anda bisa menilai keputusan berdasarkan hasil nyata, bukan berdasarkan ingatan yang mudah berubah. Bahasan terkait ada pada artikel mengukur perkembangan usaha dengan cara sederhana.
Kebiasaan memeriksa ini tidak perlu rumit. Satu daftar berisi empat pertanyaan seperti pada tabel di atas, dijalankan setiap kali keputusan penting muncul, sudah cukup untuk mengurangi kesalahan yang paling sering terulang.
Mulailah pekan ini dengan memeriksa satu hal yang Anda pertahankan hanya karena sudah lama dijalankan. Tuliskan alasan sebenarnya, lalu tentukan tanggal untuk menilainya kembali.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa contoh cara berpikir yang merugikan usaha?
Misalnya meneruskan menu yang tidak laku karena alatnya sudah dibeli, hanya mencatat pujian dan mengabaikan keluhan, atau menilai usaha dari ramai dan sepinya hari kemarin. Semuanya terasa wajar sehingga sulit disadari.
Bagaimana caranya berhenti dari sesuatu yang sudah menghabiskan banyak biaya?
Tanyakan apakah Anda akan memilih hal itu lagi bila mulai dari nol hari ini. Bila jawabannya tidak, susun rencana berhenti yang rapi, misalnya menyelesaikan stok yang ada dan memberi tahu pelanggan tetap.
Kenapa perkiraan waktu dan biaya saya selalu kurang?
Karena kita cenderung membayangkan hasil terbaik dan mengabaikan hal yang bisa tertunda. Menyiapkan tambahan waktu dan dana cadangan sejak awal membuat usaha tidak terkejut ketika kenyataan tidak sesuai rencana.
Apakah perlu orang lain untuk memeriksa keputusan saya?
Satu pendapat dari luar membantu, karena orang yang tidak terlibat lebih mudah melihat hal yang terlewat. Cukup satu orang yang mengerti usaha dan mau berterus terang.

