Modal & Keuangan

Cara Menghitung Perkiraan Laba Usaha Baru Sebelum Membuka Gerai

Omzet bukan laba. Banyak usaha terlihat sibuk sepanjang hari tetapi tidak menyisakan apa pun setelah semua biaya dibayar.

Diterbitkan 23 September 2025 · 3 menit baca · Tim LokasiBisnis.id

Pemilik usaha menuliskan hitungan di papan tulis tokonya
Pemilik usaha menuliskan hitungan di papan tulis tokonya

Salah satu kekeliruan yang paling mahal pada usaha kecil adalah menganggap omzet sebagai laba. Pemilik melihat uang masuk berlimpah pada akhir minggu, tanpa menyadari bahwa sebagian besar dari uang itu adalah milik pemasok, pemilik tempat, dan tagihan listrik.

Dari omzet sampai laba

TahapYang dikurangiYang tersisa
OmzetBelum dikurangi apa punTotal nilai penjualan
Laba kotorBiaya bahan dan persediaan yang terjualBagian untuk menutup biaya tetap
Laba bersihBiaya tetap, kemasan, antar, potongan pembayaranYang benar-benar menjadi milik Anda

Istilah untuk keduanya berbeda: persentase laba kotor disebut margin kotor, dan persentase laba bersih disebut margin bersih. Usaha bisa punya margin kotor yang sehat tetapi margin bersih yang tipis, dan penyebabnya hampir selalu biaya tetap yang terlalu besar untuk ukuran usahanya.

Memperkirakan omzet lebih dulu

Untuk usaha yang belum berjalan, omzet diperkirakan dari tiga angka:

  1. Jumlah transaksi per hari. Ambil dari pengamatan langsung di lokasi, bukan dari harapan. Hitung berapa orang yang berhenti di depan titik itu dalam satu jam sibuk, lalu kalikan dengan berapa jam Anda benar-benar ramai.
  2. Nilai transaksi rata-rata. Perkirakan dari harga produk yang paling mungkin dibeli, bukan dari produk termahal.
  3. Jumlah hari buka dalam sebulan. Ingat bahwa tidak semua hari sama ramainya, sehingga angka rata-rata lebih jujur daripada mengambil hari terbaik.

Hasil perkalian ketiganya adalah perkiraan omzet bulanan. Kalau angka itu terasa terlalu bagus, biasanya ada asumsi yang terlalu optimistis pada poin pertama.

Contoh perhitungan sederhana

Angka berikut hanya ilustrasi cara kerja, bukan data penelitian.

  • Perkiraan transaksi: 40 per hari
  • Nilai transaksi rata-rata: Rp 30.000
  • Omzet harian: Rp 1.200.000, atau sekitar Rp 36.000.000 per bulan
  • Biaya bahan 40 persen: Rp 14.400.000
  • Laba kotor: Rp 21.600.000
  • Biaya tetap, termasuk sewa, gaji, listrik, dan langganan: Rp 16.000.000
  • Biaya lain, termasuk kemasan dan potongan pembayaran: Rp 2.000.000
  • Laba bersih: sekitar Rp 3.600.000, atau 10 persen dari omzet

Dari contoh itu terlihat bahwa omzet puluhan juta rupiah menyisakan laba yang jauh lebih kecil. Kesadaran ini penting sebelum menandatangani kontrak sewa, karena perubahan kecil pada biaya tetap berdampak besar pada laba bersih.

Angka yang paling sensitif

  • Biaya tetap. Karena jumlahnya tidak berubah mengikuti penjualan, setiap kenaikan biaya tetap langsung mengurangi laba. Sewa adalah komponen terbesar yang paling bisa dinegosiasikan sebelum tanda tangan.
  • Harga jual dan biaya bahan. Selisih keduanya menentukan berapa banyak penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap.
  • Nilai transaksi rata-rata. Naik sedikit saja pada angka ini berdampak besar, karena biaya bahannya tidak naik sebesar itu.

Kesalahan yang membuat perhitungan terlalu bagus

  • Memakai hari terbaik sebagai rata-rata. Hari paling ramai sering dijadikan patokan, padahal sebulan berisi hari-hari biasa.
  • Lupa menghitung penghasilan untuk diri sendiri. Kalau pemilik tidak digaji, labanya terlihat lebih besar daripada yang sebenarnya dapat diambil.
  • Mengabaikan biaya penyusutan dan perbaikan. Peralatan akan rusak dan perlu diganti. Menyisihkan sedikit setiap bulan jauh lebih ringan daripada membayar sekaligus.
  • Menganggap pendapatan langsung penuh sejak bulan pertama. Kenyataannya, butuh waktu sebelum orang tahu dan terbiasa.

Setelah laba bersih bulanan diketahui, tinggal satu pertanyaan lagi: apakah jumlah itu cukup untuk mengembalikan modal dalam waktu yang wajar? Jawabannya ada di berapa lama modal usaha kembali.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa margin bersih yang wajar untuk usaha kecil?

Sangat berbeda antara satu jenis usaha dan lainnya, sehingga tidak ada satu angka yang berlaku umum. Usaha makanan biasanya punya margin kotor tinggi tetapi biaya tetap besar, sedangkan usaha perdagangan sering bermargin kotor lebih kecil dengan biaya tetap lebih rendah. Yang penting adalah margin bersih yang cukup untuk mengembalikan modal dalam waktu yang Anda tentukan sendiri.

Apakah saya perlu menghitung penyusutan peralatan?

Sebaiknya ya. Peralatan akan aus dan perlu diganti. Menyisihkan sebagian kecil setiap bulan membuat penggantian itu tidak mengejutkan keuangan usaha. Kalau tidak disisihkan, penggantian akan terasa seperti kerugian besar yang datang tiba-tiba.

Bagaimana kalau perkiraan laba terlihat terlalu kecil?

Periksa tiga hal secara berurutan: biaya tetap, yang biasanya paling besar dan paling bisa dinegosiasikan; harga jual, apakah terlalu rendah dibanding nilai yang Anda berikan; dan nilai transaksi rata-rata, apakah bisa dinaikkan dengan menambah produk pendamping. Kalau ketiganya sudah diperbaiki dan labanya masih terlalu kecil, lokasi atau jenis usahanya yang perlu ditinjau ulang.

Baca juga