Memberi Cerita pada Produk agar Diingat
Cara murah memberi nama dan cerita pada produk usaha kecil: mulai dari hal yang benar-benar terjadi, lalu menaruhnya di label dan tempat penjualan.
Produk yang sama bisa terasa biasa atau terasa istimewa, tergantung bagaimana ia diceritakan. Memberi nama dan cerita bukan pekerjaan mahal; ini cara murah supaya pelanggan mengingat dagangan Anda di antara banyak pilihan di sekitarnya. Yang perlu disiapkan hanya kejujuran dan sedikit waktu untuk menuliskannya.
Cerita datang dari hal yang benar-benar terjadi
Cerita yang kuat untuk usaha kecil biasanya bukan kisah besar, melainkan hal yang nyata: siapa yang membuat, dari mana bahan dibeli, mengapa resepnya tidak diubah, atau kebiasaan kecil di tempat produksi. Pelanggan lebih percaya pada keterangan yang masuk akal daripada kalimat promosi yang berlebihan.
Mulailah dengan menuliskan lima hal di buku catatan. Dari lima hal itu, pilih satu yang paling sering membuat orang tertarik.
- Pembuat: siapa yang mengerjakan dan sejak kapan.
- Bahan: dari mana asalnya dan mengapa dipilih.
- Cara kerja: satu kebiasaan kecil yang dipertahankan sampai sekarang.
- Pertanyaan pelanggan: hal yang paling sering ditanyakan pembeli.
- Perubahan: penyesuaian yang pernah dilakukan karena masukan pelanggan.
Nama yang mudah diucapkan dan diingat
Nama produk sebaiknya pendek, mudah dieja lewat telepon, dan tidak membingungkan dengan nama usaha lain di sekitar. Uji sederhananya begini: sebutkan nama itu kepada tiga orang, lalu minta mereka menuliskannya besok. Kalau ada yang salah tulis, namanya perlu disederhanakan.
Untuk usaha kecil, satu kata ditambah keterangan biasanya sudah cukup, misalnya nama bahan atau nama pemilik. Hindari singkatan yang hanya dipahami orang dalam. Perhatikan juga agar nama tidak mudah tertukar dengan produk sejenis di sekitar Anda, karena pelanggan sering menyebut nama tanpa melihat tulisan.
Menaruh cerita pada label dan tempat penjualan
Cerita tidak harus mahal. Label kertas dengan tiga baris keterangan, tulisan tangan di papan kecil, atau kartu di dekat rak sudah cukup. Yang penting kalimatnya pendek dan hurufnya terbaca dari jarak satu langkah.
Sebagai contoh perhitungan, misalkan Anda membuat seratus label kertas sederhana dengan biaya lima puluh rupiah per lembar, maka biayanya sekitar lima ribu rupiah untuk seratus produk. Angka itu hanya gambaran; biaya sebenarnya bergantung pada bahan, percetakan, dan jumlah cetak yang Anda pilih.
Kalau ingin mengubah tampilan produk lama menjadi penawaran yang terasa baru, baca juga panduan pada artikel mengubah produk lama menjadi penawaran baru.
Mengukur apakah cerita itu bekerja
Cara paling sederhana adalah mencatat berapa kali pelanggan bertanya tentang produk itu dalam sebulan, dan berapa yang membeli ulang. Tulis di buku harian usaha. Kalau cerita membuat orang bertanya, biasanya ia juga membuat orang mengingat.
Perhatikan juga ucapan pelanggan. Kalau mereka menyebut nama produk dengan benar saat memesan, penamaan Anda sudah berhasil. Sebaliknya, kalau pelanggan tetap menyebut produk dengan cara lama, berarti namanya belum cukup melekat.
Catat juga bagaimana pelanggan tahu tentang produk itu. Bila sebagian besar mengaku diberi tahu orang lain, berarti cerita Anda sudah berpindah mulut dan patut dipertahankan. Sebaliknya, bila hampir semua mengenalnya karena kebetulan lewat, cerita itu belum melekat dan perlu dibuat lebih sederhana.
Hindari mengubah cerita terus-menerus. Pelanggan butuh keterangan yang tetap supaya bisa menceritakannya kembali kepada orang lain tanpa ragu.
Kalau ada dua versi cerita yang beredar, pilih satu yang paling mudah diulang pelanggan, lalu pakai versi itu pada semua tempat: label, papan kecil, dan jawaban petugas. Cerita yang tetap jauh lebih melekat daripada cerita yang sering diperbarui tanpa alasan jelas, karena pelanggan menyimpannya sebagai keterangan yang bisa dipercaya.
Mulai dari satu produk yang paling sering Anda jual minggu ini. Tulis ceritanya dalam tiga baris, tempel pada kemasan, lalu amati reaksi pelanggan selama dua minggu sebelum memperluasnya ke produk lain.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah cerita produk harus berupa kisah besar?
Tidak. Cerita yang paling dipercaya justru hal kecil yang benar-benar terjadi, seperti siapa pembuatnya, dari mana bahannya, dan mengapa resepnya dipertahankan.
Berapa biaya membuat label bercerita?
Bisa sangat kecil. Label kertas sederhana atau papan tulisan tangan sudah cukup, dan biayanya bergantung pada bahan serta percetakan yang Anda pilih.
Bagaimana kalau produk saya banyak jenisnya?
Pilih satu atau dua produk yang paling sering dibeli lebih dulu. Setelah cara ini terbukti menarik perhatian, baru perluas ke produk lain satu per satu.
Apa yang harus dihindari saat menulis cerita produk?
Hindari klaim berlebihan, angka yang tidak jelas sumbernya, dan cerita yang terlalu panjang. Cukup dua atau tiga kalimat yang jujur dan mudah diulang orang lain.


